BAB I
PENDAHULUAN
Pengertian baik tidaklah
dapat disamakan dalam setiap hal atau perbuatan. Tidak semua kebaikan merupakan
kebaikan akhlak. Contohnya, suatu tembakan yanga baik dalam pembunuhan, dapat
merupakan perbuatan akhlak yang buruk
Namun begitu, setiap agama
pasti mengajarkan penganutnya agar
menjadi manusia yang baik. Sebagai contoh, agama Islam membawa misi sosial,
sebab ia diturunkan memang memperbaiki masyarakat umat manusia. Karena itu
sesuai dengan misi Islam ialah misi sosial ini, Islam banyak mempunyai ajaran
di bidang sosial kemasyarakatan yang membawa umatnya menjadi manusia sosial
yang baik, yang mampu berhubungan dan bergaul dengan orang lain secara baik
Ajaran-ajaran Islam yang demikian ini, kita temukan misalnya pada perintah zakat bagi yang mampu, anjuran berqurban binatang pada setiap ‘Idul qurban, anjuran sedekah, anjuran menyebarkan salam Islam kepada orang lain baik yang kita kenal maupun tidak, dan kewajiban naik haji bagi yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Selain itu diutamakan oleh Allah SWT dengan memberikan pahala yang lebih besar dari pada amalan-amalan yang kita kerjakan secara individu, maisalnya shalat lima wakttu yang dikerjakan secara berjemaah.
Ajaran-ajaran Islam yang demikian ini, kita temukan misalnya pada perintah zakat bagi yang mampu, anjuran berqurban binatang pada setiap ‘Idul qurban, anjuran sedekah, anjuran menyebarkan salam Islam kepada orang lain baik yang kita kenal maupun tidak, dan kewajiban naik haji bagi yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Selain itu diutamakan oleh Allah SWT dengan memberikan pahala yang lebih besar dari pada amalan-amalan yang kita kerjakan secara individu, maisalnya shalat lima wakttu yang dikerjakan secara berjemaah.
Dengan ajaran-ajaran
sosial dalam Islam yang demikian ini, tiap umatnya di didik oleh agama Islam
supaya dapat menjadi “manusia sosial yang baik” yang pandai membawa diri di dalam
hidup bermasyarakat.
Atas dasar uraian di atas,
maka di dalam makalah ini akan dibahas tentang “Menjadi Manusia yang Baik”
dalam ruang lingkup etika, yaitu bagaimana sifat dan cara menjadi manusia yang
baik.
Untuk membentuk manusia
yang baik dan berguna bergantung pada proses pendidikan yang dilakukan di
sekolah. Keluarga dan masyarakat juga sangat menentukan tercapainya tujuan
pendidikan tersebut. Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus bekerjasama dengan
baik dalam mengupayakan tercapainya tujuan pendidikan. Keluarga berperan dalam
membentuk dan mengembangkan kepribadian “Islam” dalam kehidupan sehari-hari di
rumah. Masyarakat menguatkan nilai-nilai yang ditanamkan di keluarga dan
sekolah.
Ada hadits pendek namun
sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir.
Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum
linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang
paling banyak bermanfaat bagi orang lain.
Derajat hadits ini ini
menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam
bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.
Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah.
Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling
berketergantungan. Saling membutuhkan.
Karena saling membutuhkan,
pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil
manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa
mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang
lazim. Adil. Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang
lain dengan pengorbanan yang amat minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak
adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang
berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara
yang curang dan melanggar hak orang lain.
Begitulah hati sanubari
kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil
manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil
manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia
orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah.
Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa
adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan
dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di
antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.
Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah
sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya
ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah
bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah
yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang
yang dicintai Allah?
Alasan kedua, karena ia
melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang
amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya
dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu
bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak
heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada
Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau
dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang
paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah
sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu
adalah amal yang paling utama bagi orang itu.
Ketiga, karena ia melakukan
kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar
pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama
saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada
I;tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.
Keempat, memberi manfaat kepada orang
lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah
swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah
orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya
yang baik-baik.
Pernah suatu ketika lewat
orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut
orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang
membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut
kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt.
Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw.
untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar
Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul
dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti
yang mereka saksikan di dunia.
Untuk bisa menjadi orang yang banyak
memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam
diri kita. Pertama, tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah swt. Sebab,
amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita
tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya.
Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas Lillahi
Ta’ala.
Ketika iman kita memuncak
kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi
ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun
kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak
membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji
Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki
dalam keadaan sesulit apapun.
Kedua, untuk bisa memberi
manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis
sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. memberi
contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia.
Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin.
Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di
hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.
Yang ketiga, tanamkan dalam
diri kita logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah
diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini
diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw.
menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seoran sahabat untuk menyedekahkan
daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang
tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw.
mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah
dibagikan.
Begitulah. Yang tersisa adalah
yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi
tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya
akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi
kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak
memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya.
Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan
selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita
melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang
mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham
pun untuk diri mereka sendiri.
Keempat, kita akan mudah
memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman
bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan
diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan
kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti
itu jugalah yang kita dari tetangga kita.
Kelima, untuk bisa
memberi, tentu Anda harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun
bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika
kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita
bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu
beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk
bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar
kita.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sifat
Genetik
Secara genetik sifat
keturunan yang dapat diamati/dilihat (warna, bentuk, ukuran) dinamakan fenotip.
Sifat dasar yang tak tampak dan tetap (artinya tidak berubah karena lingkungan)
pada suatu individu dinamakan genotip. Dalam ilmu biologi, genotip dan
lingkungan dapat menetapkan fenotip atau dengan kata lain fenotip merupakan
resultan/hasil dari genotip dan lingkungan. Dengan demikian, maka dua genotip
yang sama dapat menunjukkan fenotip yang berlainan, apabila lingkungan bagi
kedua fenotip itu berlainan. Contohnya anak kembar satu telur tentunya memiliki
genotip yang sama, tetapi jika kedua anak tersebut dibesarkan dilingkungan
berbeda maka mereka akan memiliki sifat fenotip yang berbeda.
Penulis kemukakan contoh
di atas (contoh dari segi ilmu biologi) hanya untuk memperlihatkan betapa
pengaruh lingkungan sangat kuat terhadap munculnya sifat atau karakter pada
seseorang. Belum lagi sifat dasar manusia yang lain yang dipengaruhi oleh
kebutuhan biologis itu sendiri seperti rasa lapar, rasa sakit, rasa
takut, kebutuhan seks dan ego (Sutarto, 2011) yang menentukakkan juga terhadap
karakter atau perilaku seseorang di masyarakat. Sebagai contoh pada masyarakat
yang rata-rata memiliki pekerjaan tetap (gaji cukup) tentunya tuntutan terhadap
pemenuhan/dorongan rasa lapar tersebut kecil bila dibandingkan dengan
sekelompok masyarakat yang kebanyakan memiliki pendapatan tidak menentu,
sehingga bisa terlihat karakter lain di masyarakat. Maka dengan demikian
terbentuklah masyarakat yang heterogen sehingga diperlukan ilmu yang bisa
mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan ikatan-ikatan yang
menguasai kehidupan tersebut (Sosiologi) diharapkan bila terjadi konflik atau
gesekan-gesekan horizontal di masyarakat, dengan ilmu ini bisa mengatasi dan
menyelesaikan masalah.
B. Gambaran
Paradigma Sosial Lingkungan Tempat Tinggal Penulis
Lingkungan sosial sangat
besar pengaruhnya dalam membentuk kepribadian seorang manusia, adapun yang
dimaksud dengan lingkungan sosial adalah semua orang atau manusia lain yang
dapat mempengaruhi manusia lain. Pengaruh lingkungan sosial itu ada yang
diterima secara langsung dan ada yang tidak langsung. Pengaruh secara langsung
seperti dalam pergaulan sehari-hari dengan orang lain, keluarga, teman-teman,
kawan sekolah, sepekerjaan, dan lain sebagainya. Pengaruh yang tidak langsung
yaitu: melalui radio, TV majalah, buku-buku surat kabar dan lain sebagainya
(Dalyono, 2001:133).
Dalam hal ini yang akan
dibahas adalah lingkungan sosial yang di dalamnya terdapat lingkungan keluarga
yang sangat berperan dalam pembentukan kepribadian anak dan faktor-faktor di
dalamnya yang memiliki andil besar dalam pembentukan kepribadian tersebut yang
tentunya tidak terlepas dari peran keluarga.
Lingkungan tempat tinggal
penulis berada dikawasan Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung (berbatasan
dengan Kota Bandung, hanya terpisahkan oleh jalan), berada di lingkungan gang
yang padat penduduk. Hampir tidak ada celah untuk dapat dinikmati sebagai ruang
terbuka oleh para penghuni rumah. Keluarga merupakan unit terkecil dari
masyarakat, begitupun dengan kehidupan masyarakat yang tinggal di gang sempit
yang dibangun oleh berbagai keluarga dengan kekhasan yang beragam, tentu akan
menimbulkan dinamika tersendiri bagi masyarakat yang ada di dalamnya, hal ini
diperparah dengan banyaknya rumah-rumah kos yang dikontrakan memungkinkan
banyaknya pendatang yang tentu saja memiliki latar belakang keluarga yang
beragam pula yang ikut membentuk tipe masyarakat di daerah tersebut.
Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu
berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah “perjuangan,
nilai-nilai, kebiasaan” yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif
(tidak tersadari). Sebagian ahli menyebutnya bahwa pengaruh keluarga amat besar
dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk
kepribadian anak biasanya adalah keluaraga yang penuh konflik, tidak bahagia,
tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai
yang rusak. Itupun yang terjadi di lingkungan gang sempit, kurang baik untuk
perkembangan pendidikan anak. Berikut foto letak rumah penulis.
Satu dinamika sosial
terlepas kekurangannya, tentunya pada type kelompok masyarakat seperti ini
masih adanya rasa kebermasyarakatan dan kekeluargaan yang tinggi bila
dibandingkan dengan type/kelompok masyarakat yang menamakan diri kelompok
masyarakat elit dimana rumah satu sama lain dibatasi dengan tembok yang besar,
bahkan kasarnya tetangga sebeleh meninggalpun mungkin tidak tahu. Sebagai
contoh suka diadakannya kerja bakti lingkungan hidup, ronda (poskamling),
pengajian rutin ibu-ibu dan bapak-bapak pada minggu tertentu yang sudah
diagendakan, takjiah bersama bagi yang meninggal dunia, menyantuni dan
menginventarisir anak-anak yatim dan orang-orang miskin untuk diberikan
bantuan, dan lain-lainnya.
Itulah beberapa gambaran
paradigma sosial yang berada dilingkungan tempat tinggal penulis yang merasa
pantas untuk diangkat dan dikaji sehingga positif dan negatifnya bisa dijadikan
bahan kajian keilmuan sehingga menambah wawasan dalam kemasyarakatan pada
khususnya dan kewarganegaraan pada umumnya sebagaimana digambarakan pada skema
di bawah ini :
Gambar Skema Paradigma Sosial yang
terbentuk di Masyarakat
C. Gambaran
Paradigma Pendidikan Tempat Tinggal Penulis
Pembahasan mengenai
pengaruh lingkungan terhadap proses pendidikan manusia khususnya dalam
kehidupan bermasyarakat sebagaimana penulis uraikan di atas bertitik tolak atau
fokus kepada keluarga. Karena keluarga memiliki peranan yang sangat penting
dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih
sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial
budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan
anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. F.J. Brown dalam Syamsu
(2006 ; 36) mengemukakan bahwa ditinjau dari sudut pandang sosiologi, keluarga
dapat diartikan dua macam, yaitu a) dalam arti luas, keluarga meliputi semua
pihak yang berhubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan
“clan” atau marga; b) dalam arti sempit keluarga meliputi orang tua dan anak.
Selain lingkungan keluarga, lingkungan masyarakatpun tidak kalah
pentingnya dalam membantu perkembangan anak-anak dalam mencapai kedewasaannya,
lingkungan masyarakat yang baik akan menciptakan generasi yang baik pula dan
sebaliknya lingkungan masyarakat yang buruk akan membawa dampak dan pengaruh
yang buruk pada anak dalam mencapai kedewasaannya. Sehingga perhatian terhadap
lingkungan pendidikan baik pendidikan di keluarga, madrasah/sekolah dan
masyarakat menjadi sangat penting dalam rangka menciptakan generasi yang sesuai
dengan tuntutan dan harapan bangsa, negara dan agama.
Berdasarkan uraiaan
tersebut di atas, betapa keluarga merupakan factor pertama dan utama dalam
peletakan dasar-dasar pendidikan bagi anak-anaknya, sehingga para orang tua
tidak ada alasan untuk tidak memperhatikan anaknya. Dari segi melanjutkan
sekolah di lingkungan penulis rata-rata sampai tingkat SMP (mungkin karena
program wajar dikdas 9 tahun) dan sebagian lulus SMA, sedikit yang ke perguruan
tinggi. Dari fenomena lain, dunia pendidikan sekarang pada umumnya dan di sekitar
tempat tinggal penulis pada khususnya, pergaulan anak atau perkembangan anak
oleh beberapa orang tua tidak bisa dikontrol dan dikendalikan. Sebagai contoh
bahasa yang keluar dari pergaulan mereka mohon maaf banyak kata-kata “kotor”
dan “jorok”, sudah membiasakan diri merokok, berani tidak melaksanakan ibadah
sesuai kepercayaannya, dan lain sebagainya. Dengan fakta seperti itu penulis
pada khususnya dan para orang tua pada umumya dihadapkan pada posisi dilematis.
Satu sisi anak perlu bermain (memang masanya anak untuk bermain), satu sisi
para orang tua sangat riskan dengan pergaulan anak sekarang. Sehingga para
orang tua harus benar-benar membuat program kegiatan anak yang kuantitas dan
kualitasnya benar-benar terjaga sehingga mereka bisa diminimalkan terkontaminasi
oleh pergaulan yang kurang baik, walaupun pada era globalisasi dan informasi
ini sangat berat sebagai orang tua.
Untuk meminimalkan
anak-anak generasi penerus bangsa dan juga bagian dari komponen masyarakat di
lingkungannya menjadi anak yang berkualitas baik jenjang pendidikan, akhlak,
dan pribadi unggul lainnya, penulis mencoba membuat suatu skema atau alur
paradigm pendidikan khususnya di lingkungan tempat tinggal penulis sebagai
berikut :
Gambar
: Skema paradigm
pendidikan keluarga
Untuk membentuk manusia
yang baik dan berguna bergantung pada proses pendidikan yang dilakukan di
sekolah. Keluarga dan masyarakat juga sangat menentukan tercapainya tujuan
pendidikan tersebut. Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus bekerjasama dengan
baik dalam mengupayakan tercapainya tujuan pendidikan. Keluarga berperan dalam
membentuk dan mengembangkan kepribadian “Islam” dalam kehidupan sehari-hari di
rumah. Masyarakat menguatkan nilai-nilai yang ditanamkan di keluarga dan
sekolah.
Negara mendorong keluarga
untuk meningkatkan peran dan kemampuannya dalam mendidik anak serta menyediakan
fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan keluarga yang ingin meningkatkan
kemampuannya dalam mendidik anak. Negara dapat menarik sementara hak pendidikan
anak dari seorang ayah atau ibu dan menyerahkannya kepada keluarga atau kerabat
lain yang mampu mendidik, apabila seorang ayah atau ibu sangat lemah dalam
mendidik anaknya, sampai ayah atau ibu tersebut dapat mendidik anaknya.
Negara harus mengawasi media massa dan perilaku individu-individu dalam kehidupan umum. Media massa tidak boleh menyebarkan nilai, pemikiran, atau contoh perilaku yang membahayakan peserta didik. Demikian pula tindakan-tindakan pelanggaran hukum atau yang tercela; harus ditindak tegas sehingga tidak menyebar di tengah-tengah masyarakat. Tindakan negara ini seiring dengan peran kontrol sosial warga masyarakat sehingga efektif menjaga generasi dari lingkungan yang buruk bagi pendidikannya.
Negara harus mengawasi media massa dan perilaku individu-individu dalam kehidupan umum. Media massa tidak boleh menyebarkan nilai, pemikiran, atau contoh perilaku yang membahayakan peserta didik. Demikian pula tindakan-tindakan pelanggaran hukum atau yang tercela; harus ditindak tegas sehingga tidak menyebar di tengah-tengah masyarakat. Tindakan negara ini seiring dengan peran kontrol sosial warga masyarakat sehingga efektif menjaga generasi dari lingkungan yang buruk bagi pendidikannya.
D. Tiga Langkah Menjadi Manusia Terbaik
Ada hadits pendek namun
sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir.
Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum
linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang
paling banyak bermanfaat bagi orang lain.
Derajat hadits ini ini
menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam
bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.
Adalah aksioma bahwa
manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu
orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling
membutuhkan.
Karena saling membutuhkan,
pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil
manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa
mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang
lazim. Adil.
Jika ada orang yang
mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat
minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku
curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil
banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak
orang lain.
Begitulah hati sanubari
kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil
manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil
manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia
orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah.
Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa
adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan
dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di
antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.
Orang yang selalu menebar
kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa
Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama,
karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya
kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat
bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?
Alasan kedua, karena ia
melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang
amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya
dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu
bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak
heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada
Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau
dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang
paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah
sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu
adalah amal yang paling utama bagi orang itu.
Ketiga, karena ia melakukan
kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar
pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama
saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada
I;tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.
Keempat, memberi manfaat
kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang
beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri
kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam
golongan hambanya yang baik-baik.
Pernah suatu ketika lewat
orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut
orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang
membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut
kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt.
Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw.
untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar
Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul
dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti
yang mereka saksikan di dunia.
Untuk bisa menjadi orang
yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa
hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah
swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada
Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja
balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal
ikhlas Lillahi Ta’ala.
Ketika iman kita memuncak
kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi
ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun
kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak
membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji
Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki
dalam keadaan sesulit apapun.
Kedua, untuk bisa memberi
manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis
sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. memberi
contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia.
Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin.
Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di
hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.
Yang ketiga, tanamkan dalam
diri kita logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah
diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini
diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw.
menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seoran sahabat untuk menyedekahkan
daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang
tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw.
mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah
dibagikan.
Begitulah. Yang tersisa
adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi
tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya
akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi
kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak
memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya.
Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan
selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita
melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang
mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham
pun untuk diri mereka sendiri.
Keempat, kita akan mudah
memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman
bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan
diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan
kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti
itu jugalah yang kita dari tetangga kita.
Kelima, untuk bisa memberi,
tentu Anda harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun
bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika
kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita
bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu
beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk
bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar
kita.
E. Berbuat baik (Beneficence)
Merupakan salah satu prinsip dalam Bioetika (Shannon, 1997). Prinsip
berbuat baik merupakan segi positif dari prinsip tidak merugikan. Kewajiban
berbuat baik menuntut bahwa kita harus membantu orang lain dalam memajukan
kepentingan mereka.
Cara Untuk Menjadi Manusia
Yang Baik dan Menarik adalah :
a.
Royalah Dalam Memberikan Pujian.
Pujian itu seperti air
segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda
selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi
yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar
untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu
pujilah dengan tulus.
b. Buatlah Orang Lain Merasa Dirinya Sebagai Orang
Penting.
Tunjukkanlah dengan sikap
dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan
biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah
janji, dsb.
c. Jadilah Pendengar Yang Baik.
Kalau bicara itu perak dan
diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar
yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah
kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia
bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai
atau menasehatinya bila tidak diminta.
d. Usahakan Untuk Menyebut Nama Orang Dengan Benar.
Nama adalah milik berharga
yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut
secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan
menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu
ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering
mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak
kedengarannya daripada sekedar Bapak.
e. Bersikaplah Ramah.
Semua orang senang bila
diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan
dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat Anda.
f. Bermurah Hatilah.
Anda tidak akan menjadi
miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang
sangat bijak pernah menulis, Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya
sendiri. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat Anda, dan disisi
lain berguna bagi orang lain.
g. Hindari Kebiasaan Mekritik Dan Mencela.
Umumnya orang tidak suka
bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu
menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan
diri dengan sikap yang tidak bersahabat.
h. Bersikaplah Asertif.
Orang yang disukai
bukanlah orang yang selalu berkata Ya, tetapi orang yang bisa berkata Tidak
bila diperlukan. Sewaktu-waktu bisa saja prinsip atau pendapat Anda
berseberangan dengan orang lain. Anda tidak harus menyesuaikan diri atau
memaksakan mereka menyesuaikan diri dengan Anda. Jangan takut untuk berbeda
dengan orang lain. Yang penting perbedaan itu tidak menimbulkan konflik, tapi
menimbulkan sikap saling pengertian.
i. Perbuatlah Apa Yang Anda Ingin Orang Lain Perbuat
Kepada Anda.
Perlakuan apapun yang anda
inginkan dari orang lain yang dapat menyukakan hati, itulah yang harus anda
lakukan terlebih dahulu. Anda harus mengambil inisiatif untuk memulainya.
Misalnya, bila ingin diperhatikan, mulailah memberi perhatian. Bila ingin
dihargai, mulailah menghargai orang lain.
j. Cintailah Diri Sendiri.
Mencintai diri sendiri
berarti menerima diri apa adanya, menyukai dan melakukan apapun yang terbaik
untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan egois yang berarti mementingkan diri
sendiri atau egosentris yang berarti berpusat kepada diri sendiri. Semakin Anda
menyukai diri sendiri, semakin mudah Anda menyukai orang lain, maka semakin
besar peluang Anda untuk disukai orang lain. Dengan menerima dan menyukai diri
sendiri, Anda akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, menerima mereka
dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, bekerjasama dengan mereka dan
menyukai mereka. Pada saat yang sama tanpa disadari Anda memancarkan pesona
pribadi yang bisa membuat orang lain menyukai Anda.
- Pengertian Kebaikan Secara Etika
Secara umum kebaikan
adalah sesuatu yang diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia.
Tingkah laku manusia adalah baik dan benar, jika tingkah laku tersebut menuju
kesempuranan manusia. Kebaikan disebut nilai (value), apabila kebaikan itu bagi
seseorang menjadi kebaikan yang konkrit.
Manusia menentukan tingkah
lakunya untuk tujuan dan memilih jalan yang ditempuh. Pertama kali yang timbul
dalam jiwa adalah tujuan itu, dalam pelaksanaanya yang pertama diperlukan
adalah jalan-jalan itu. Jalan yang ditempuh mendapatkan nilai dari tujuan
akhir.
Manusia harus mempunyai
tujuan akhir untuk arah hidupnya. Tujuan harus ada, supaya manusia dapat
menentukan tindakan pertama. Jika tidak, manusia akan hidup secara serampangan.
Tetapi bisa juga orang mengatakan hidup secara serampangan menjadi tujuan
hidupnya. Akan tetapi dengan begitu manusia tidak akan sampai kepada
kesempurnaan kebaikan selaras dengan derajat manusia.
Untuk setiap manusia,
hanya terdapat satu tujuan akhir. Seluruh manusia mempunyai sifat serupa dalam
usaha hidupnya, yaitu menuntut kesempurnaan.
Tujuan akhir selamanya
merupakan kebaikan tertinggi, baik manusia itu mencarinya dengan kesenangan
atau tidak. Tingkah laku atau perbuatan menjadi baik dalam arti akhlak, apabila
membimbing manusia ke arah tujuan akhir, yaitu dengan melakukan perbuatan yang
membuatnya baik sebagai manusia.
Berdasarkan norma susila,
kebaikan atau keburukan perbuatan manusia dapat dipandang melalui beberapa
cara, yaitu :
Ø Objektif – keadaan perseorangan tidak dipandang.
Ø Subjektif – keadaan
perseorangan diperhitungkan.
Ø Batiniah – berasal
dari dalam perbuatan sendiri (kebatinan, intrinsik)
Ø Lahiriah – berasal
dari perintah atau larangan Hukum Positif (ekstrinsik)
Perbuatan yang sendirinya
jahat tidak dapat menjadi baik atau netral karena alasan atau keadaan. Biarpun
mungkin taraf keburukannya dapat berubah sedikit sedikit, orang tidak boleh
berbuat jahat untuk mencapai kebaikan.
Perbuatan yang baik,
tumbuh dalam kebaikannya, karena kebaikan alasan dan keadaannya. Suatu alasan
atau keadaan yang jahat sekali, telah cukup untuk menjahatkan perbuatan. Kalau
kejahatan itu sedikit, maka kebaikan perbuatan hanya akan dikurangi.
Perbuatan
netral memproleh kesusilaannya, karena alasan dan keadaannya. Jika ada beberapa
keadaan, baik dan jahat, sedang perbuatan itu sendiri ada baik atau netral
dipergunakan
Berikut ini sifat umum
manusia yang baik yang dikutip dari “SPECIAL MANAGEMENT SKILL SUB DIREKTORAT
PPKB DIRMAWA UGM” :
|
Adaptable
|
Mudah menyesuaikan diri dan senang
dalam setiap situasi.
|
|
Adventurous
|
Orang yang mau melakukan suatu hal
yang baru dan berani dengan tekat untuk menguasainya.
|
|
Analytical
|
Suka menyelidiki bagian-bagian
hubungan yang logis dan semestinya.
|
|
Animated
|
Penuh kehidupan, sering menggunakan
isyarat tangan, lengan, dan wajah secara hidup.
|
|
Balanced
|
Kepribadian yang stabil dan
mengambil tengah-tengah, jarang bersikap ekstrim.
|
|
Behaved
|
Konsisten ingin membawa dirinya di
dalam batas-batas apa yang dirasakan semestinya.
|
|
Bouncy
|
Kepribadian yang hidup, berlebihan,
dan penuh tenaga.
|
|
Bold
|
Tidak kenal takut, berani, terus
terang,tidak takut akan resiko
|
|
Chief
|
Memegang kepemimpinan dan
mengharapkan orang lain mengikutinya.
|
|
Chartmaker
|
Mengatur kehidupan, tugas, dan
pemecahan masalah dengan membuat daftar, formulir atau grafik.
|
|
Cheerful
|
Konsisten memiliki semangat tinggi
dan mempromosikan kebahagiaan pada orang lain.
|
|
Competitive
|
Mengubah setiap situasi, kejadian,
atau permainan menjadi
lomba dan selalu bermain untuk
menang.
|
|
Convincing
|
Bisa merebut hati orang lain melalui
pesona kepribadiannya.
|
|
Considerate
|
Menghargai keperluan dan perasaan
orang lain.
|
|
Consistent
|
Memiliki keseimbangan secara
emosional, menanggapi sebagaimana diharapkan orang.
|
|
Controlled
|
Mempunyai perasaan emosional tetapi
jarang memperlihatkan-nya.
|
|
Confident
|
Percaya diri dan yakin akan
kemampuan dan suksesnya sendiri.
|
|
Cultured
|
Perhatiannya melibatkan tujuan
intelektual dan artistik, seperti teater, simfoni, balet.
|
|
Cute
|
Dicintai, pusat perhatian.
|
|
Contented
|
Mudah puas dengan apa yang
dimilikinya, jarang iri hati.
|
|
Daring
|
Bersedia mengambil resiko, tak kenal
takut, berani.
|
|
Deep
|
Intensif dan introspektif tanpa rasa
senang kepada percakapan basa-basi.
|
|
Delightful
|
Orang yang menyenangkan sebagai
teman.
|
|
Demonstrative
|
Terang-terangan menyatakan emosi,
terutama sayang, dan tidak ragu menyentuh orang lain ketika sedang berbicara.
|
|
Decisive
|
Mempunyai kemampuan membuat
penilaian yang cepat dan tuntas.
|
|
Detailed
|
Melakukan segalanya secara berurutan
dengan ingatan yang jernih tentang segala hal yang terjadi.
|
|
Diplomatic
|
Berurusan dengan orang lain secara
penuh siasat, perasa, dan sabar.
|
|
Dry humor
|
Pandai bicara yang menggigit,
biasanya satu kalimat yang sifatnya sarkastis.
|
|
Funny
|
Punya rasa humor yang cemerlang dan
bisa membuat cerita apa saja menjadi peristiwa yang menyenangkan.
|
|
Forceful
|
Kepribadian yang mendominasi dan
menyebabkan orang lain ragu-ragu untuk melawannya.
|
|
Faithful
|
Secara konsisten bisa diandalkan,
teguh, setia, dan mengabdi kadang tanpa alasan.
|
|
Friendly
|
Menanggapi dan bukan orang yang
penuh inisiatif, jarang memulai percakapan. Ramah dalam berhubungan sosial.
|
|
Inspiring
|
Mendorong orang lain untuk bekerja,
bergabung, atau terlibat dan membuat seluruhnya menyenangkan.
|
|
Independent
|
Mandiri, penuh percaya diri, dan
tidak begitu memerlukan bantuan.
|
|
Idealistic
|
Memvisualisasikan hal-hal dalam
bentuk yang sempurna dan perlu memenuhi standard itu sendiri.
|
|
Inoffensive
|
Tidak pernah mengatakan atau
menyebabkan apapun yang tidak menyenangkan atau menimbulkan keberatan.
|
|
Lively
|
Penuh kehidupan, kuat, penuh semangat.
|
|
Leader
|
Terdoronguntuk memimpin, dan sering
sulit mempercayai orang lain bisa melakukan pekerjaan dengan sama baiknya.
|
|
Loyal
|
Setia kepada seseorang, gagasan,
atau pekerjaan, kadang-kadang melampaui alasan masuk akal.
|
|
Listener
|
Selalu bersedia mendengar apa yang
dikatakan orang lain.
|
|
Mixes-easily
|
Menyukai pesta dan tidak bisa
menunggu untuk bertemu setiap orang dalam ruangan, grapyak pada semua
orang.
|
|
Mover
|
Terdorong oleh keperluan untuk
produktif, pemimpin yang diikuti orang lain, sulit duduk diam.
|
|
Musical
|
Punya apresiasi mendalam tentang
musik, punya komitmen pada musik sebagai seni bukan sebagai hiburan.
|
|
Mediator
|
Konsisten mencari peranan merukunkan
pertikaian untuk menghindari konflik.
|
|
Optimistic
|
Periang dan meyakinkan dirinya dan
orang lain bahwa segalanya akan beres.
|
|
Outspoken
|
Bicara terang-terangan dan tanpa
menahan diri.
|
|
Orderly
|
Orang yang mengatur segala-galanya
secara metodis dan sistematis.
|
|
Obliging
|
Bisa menerima apa saja. Orang yang
cepat melakukannya dengan cara lain.
|
|
Peaceful
|
Tampak tidak terganggu dan tenang
serta menghindari setiap bentuk kekacauan.
|
|
Persistent
|
Melakukan sesuatu sampai selesai
sebelum memulai lainnya.
|
|
Persuasive
|
Meyakinkan orang dengan logika dan
fakta, bukannya pesona atau kekuasaan.
|
|
Playful
|
Penuh kesenangan dan selera humor
yang baik.
|
|
Patient
|
Tidak terpengaruh oleh penundaan,
tetap tenang dan toleran serta sabar.
|
|
Popular
|
Menghidupkan suasana, sehingga sangat
diharapkan kehadirannya oleh orang lain.
|
|
Productive
|
Terus menerus bekerja atau mencapai
sesuatu, sering merasa sulit beristirahat.
|
|
Perfectionist
|
Menempatkan standard tinggi pada
dirinya dan orang lain.
|
|
Pleasant
|
Mudah bergaul, bersifat terbuka,
mudah diajak bicara.
|
|
Promoter
|
Mendorong orang lain mengikuti,
bergabung, atau melakukan sesuatu melalui pesona kepribadiannya.
|
|
Positive
|
Mengetahui segala-galanya akan beres
kalau dia yang memimpin.
|
|
Planner
|
Mempersiapkan aturan yang
terincisebelum-nya dalam menyelesaikan target atau pekerjaan.
|
|
Refreshing
|
Memperbaharui dan membantu atau
membuat orang lain merasa senang.
|
|
Resourceful
|
Bisa bertindak cepat dan efektif
boleh dikata dalam semua situasi.
|
|
Respectful
|
Memperlakukan orang lain dengan rasa
segan, hormat, dan penghargaan.
|
|
Reserved
|
Menahan diri dalam menunjukkan emosi
atau antusiasme
|
|
Spontaneous
|
Semua kehidupan merupakan kegiatan
yang impulsif, tidak dipikirkan lebih dulu, dan tidak terhambat oleh rencana.
|
|
Sociable
|
Bersama orang lain sebagai
kesempatan untuk bersikap manis dan menghibur.
|
|
Strongwilled
|
Orang yang yakin akan caranya
sendiri, berkemauan kuat.
|
|
Self-sacrificing
|
Bersedia mengorbankan dirinya demi
atau untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
|
|
Submissive
|
Dengan mudah menerima pandangan atau
keinginan orang lain tanpa banyak bertanya.
|
|
Spirited
|
Penuh kehidupan dan gairah.
|
|
Self-reliant
|
Mandiri dan sepenuhnya bisa
mengandalkan kemampuan, penilaian, dan sumber dayanya sendiri.
|
|
Sensitive
|
Secara intensif memperhatikan orang
lain, dan apa yang terjadi.
|
|
Satisfied
|
Orang yang mudah menerima keadaan
atau situasi apa saja.
|
|
Sure
|
Yakin, jarang ragu-ragu atau goyah.
|
|
Scheduled
|
Membuat, menghayati, dan menuruti
rencana sehari-hari, tidak menyukai rencananya terganggu.
|
|
Shy
|
Pendiam, tidak mudah terseret dalam
percakapan.
|
|
Talker
|
Terus menerus bicara, biasanya
menceritakan kisah lucu, merasa perlu mengisi kesunyian agar orang lain
senang.
|
|
Tenacious
|
Memegang teguh dengan keras kepala
dan tidak mau melepaskan sampai tujuan tercapai.
|
|
Tenacious
|
Memegang teguh dengan keras kepala
dan tidak mau melepaskan sampai tujuan tercapai.
|
|
Thoughtful
|
Tanggap dan mengingat kesempatan
istimewa dan cepat memberikan isyarat yang baik
|
|
Tolerant
|
Mudah menerima pemikiran dan cara
orang lain tanpa perlu tidak menyetujui atau mengubahnya.
|
H.
Cara Bergaul dengan Baik
Seluruh manusia itu adalah
umat yang satu. Dalam hidup bemasyarakat, kita bergaul dengan banyak pihak. Dan
dengan semua pihak ini, tidak peduli suku apa, pangkatnya apa, agamanya apa,
dan lain sebagainya.
Misalnya dalam ajaran Islam, penganutnya diminta oleh Islam untuk bergaul dengan baik. Terutama terhadap pihak-pihak yang berikut ini, harus diberikan priorotas untuk kita pergauli dengan baik yaitu:
Misalnya dalam ajaran Islam, penganutnya diminta oleh Islam untuk bergaul dengan baik. Terutama terhadap pihak-pihak yang berikut ini, harus diberikan priorotas untuk kita pergauli dengan baik yaitu:
1.
Kedua orang tua, ibu dan bapak kita masing-masing
2.
Orang-orang yang menjadi karib kerabat kita
3.
Anak-anak yatim
4.
Orang-orng miskin
5. Tetangga yang dekat maupun yang jauh dengan kita, baik dilihat dari
segi tempat, hubungan keluarga maupun
dilihat dari segi muslim dan bukan muslim.
6.
Orang-orang yang menjadi teman sejawat kita
7. Ibnu sabil yaitu, para musafir yang kehabisan
bekal yang kepergiannya tidak untuk
maksiat.
8.
Hamba sahaya
Bergaul yang baik dengan sesama
manusia dapat dibagai menjadi tiga tingkat:
Tingkat pertama:
Tingkat pertama:
Ialah tingkat yang paling
rendah yaitu kita bergaul dengan orang lain hanya sekedar kita tidak membuta
susah kepada orang lain dan tidak mengganggu mereka.
Misalnya Pada waktu siang
hari selagi orang lian tengah istirahat tidur siang atau tengah asik belajar,
kita tidak membunyikan TV atau Radio keras-keras, contah yang lain adalah tidak
membuang sampah sembarang sehingga mengganggu tetangga dan lain sebagainya.
Jadi menurut cara bergaul tingkat rendah ini, kita bergaul secara positif sebab
kita tidak berbuat ini dan itu yang dapat menyusahkan orang lain.
Tingkat kedua:
Ialah bergaul yang lebih
tinggi dari pada bergaul tingkat pertama. Bergaul yang baik dengan orang lain
menurut tingkat kedua ini kita bergaul tidak secara pasif lagi tetapi secara
aktif, dengan kita berbuat dan bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak sekedar
hanya “tidak menggangu orang lain”, tetapi lebih dari itu kita sudah memberikan
sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain.
Dalam Islam, Rasulullah
juga mengajarkan kepada umat muslim agar selalu menjadi manusia yang bermanfaat
bagi orang lain. Lebih jauh Rasulullah menerangkan: “tahukah kamu, apa yang
menjadi hak tetangga? Bila tetangga minta tolong tolonglah ia. Bila ia ingin
hutang kepadamu, hutangilah dia. Bila ia memerlukan sesuatu, berikan sesuatu kepadanya.
Bila ia jatuh sakit, jenguklah ia. Bila ia meninggal dunia antarkanlah jenazahnya.
Bila memperolah sesuatu yang menggembirakan, ucapkanlah selamat kepadanya. Bila
ia mendapat sesuatu musibah, tunjukkanlah rasa simpati kepadanya. Janganlah
kamu mendirikan bangunan yang tinggi yang menutupi udara tetangga itu kecuali
kalau sudah mendapat ijin. Bila kamu membeli buah-buahan hadiahkan sebagian
kepadanya, bila tidak masukkanlah ke rumah pelan-pelan dan jangan sampai
anak-anakmu membawa keluar buah-buahan itu supaya tidak membikin jengkel anak
tetanggamu. Janganlah kamu sakiti hati tetangga dengan bau masakan didapur,
kecuali kalau kamu berikan sebagian kepadanya.
Tingkat ketiga:
Cara bergaul yang baik
yang ketiga ini adalah cara bergaul yang terbaik dan tertinggi.
Menurut cara bergaul yang
ketiga ini, kita tidak hanya sekedar “tidak mengganggu orang lain dan tidak
hanya sekedar memberi manfaaat kepada orang lain” seperti pada cara bergaul
menurut tingkat pertama dan kedua, melainkan lebih dari itu kita sudah berbuat
ke tingkat yang lebih sempurna lagi, yaitu kita menahan diri dengan sabar
terhadap tindakan orang lain yang menyakitkan kita, bahkan kita balas perbuatan
yang tidak baik itu dengan kebaikan. Seperti yang diajarkan Rasulullah terhadap
umat muslim : “jika kamu ingin melebihi tingkat mereka yang tergolong shiddiqun
(orang-orang yang benar) sambunglah hubungan persaudaraan dengan mereka yang
memutuskan hubungan persaudaraan itu, berilah mereka yang menahan pemberian dan
maafkanlah mereka yang berbuat dzalim kepadamu”.
Memang sebagian orang
kurang begitu memperhatikan pergaulannya dengan orang lain dan tidak ambil
perduli terhadap masyarakat sekitarnya. Bersikap masa bodoh dengan tidak senang
bergaul dengan orang, bahkan tingkah lakunya menunjukkan sifat-sifat angkuh dan
angker, terutama kepada orang-orang yang tingkatnnya yang lebih rendah. Tidak
ada keramahan, tidak ada kedermawanan, tidak ada sikap tawadhu.
Semua bentuk-bentuk tingkah laku yang sifatnya asosial, tentu sangat keliru dan sangat tidak bijaksana.
Semua bentuk-bentuk tingkah laku yang sifatnya asosial, tentu sangat keliru dan sangat tidak bijaksana.
I.
Menjadi Sebaik-baik Manusia
Adalah
aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Satu dengan yang lain hidup saling
berketergantungan. Karena, kita membutuhkan sesuatu dari orang lain. Dengan
kata lain, kala berinteraksi dengan seseorang, kita sesungguhnya sedang
mengambil manfaat dari orang itu untuk kepentingan diri kita. Ada yang memberi
jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima
jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.
Namun,
ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan
pengorbanan yang amat minim. Naluri kita akan mengatakan, ini tidak adil.
Curang. Ketika seseorang mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan
cara curang dan melanggar hak orang lain, kita sebut itu sebagai kejahatan.
Hati
selalu menginginkan pola hubungan yang seimbang dan saling ridho dalam
mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang
mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk
manusia kepada orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara
yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan
kekerasan.
Yang luar biasa adalah
orang lebih banyak memberi daripada mengambil manfaat dalam berinteraksi dengan
orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara
kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih.
Untuk bisa punya sifat
selalu memberi, ada beberapa hal harus kita set up ke dalam diri kita. Pertama,
iman kepada Tuhan YME. Sebab, amal tanpa pamrih adalah bentuk ikhlas. Hanya
mengharap ridho Tuhan YME. Tak mungkin sifat ini ada jika iman kita tipis.
Seperti kisah Bilal bin Rabah. Ia hidup miskin. Namun ia selalu bersedekah di
dalam keadaan sesulit apapun. Kata Nabi, sedekah tidak membuat rezeki
berkurang. Bilal mengimani janji Nabi ini.
Kedua, untuk bisa memberi manfaat kepada
orang lain tanpa pamrih, kita perlu mengikis habis sifat egois dan rasa serakah
terhadap materi dari diri kita.
Ketiga, harus ada adagium “sisa harta kita
adalah yang telah diberikan kepada orang lain” di benak kita. Pernah Nabi
menyembelih kambing. Beliau menyuruh seorang sahabat untuk menyedekahkan daging
kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Nabi bertanya, berapa yang tersisa? Sahabat
menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Nabi mengoreksi jawaban itu. Yang
tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan. Itulah yang kekal sebagai
tabungan akhirat. Sementara, daging paha yang ada tak lama lagi akan busuk atau
membusuk di dalam perut kita sebelum menjadi kotoran.
Begitulah harta. Jika
tidak dimanfaatkan untuk beramal, akan lepas selamanya dari tangan kita: lapuk
dimakan usia, menjadi sampah, atau diperebutkan ahli waris. Tak heran jika Abu
Tholhah tidak bisa tidur nyenyak sebelum keuntungan berdagangnya disedekahkan
di malam itu juga.
Keempat, memberi manfaat tanpa pamrih kepada
orang lain menjadi mudah jika di benak kita ada pemahaman bahwa “sebagaimana
kita memperlakukan, seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. “Jika kita
memuliakan tamu, seperti itu juga kita dimuliakan saat bertamu. Anda pelit ke
tetangga, tetangga pun akan pelit ke Anda. Kelima, untuk bisa memberi, kita
harus memiliki sesuatu. Bentuknya bisa dana, pikiran, tenaga, waktu, dan
perhatian.
Begitulah manusia terbaik. Senantiasa
memberi, tak harap kembali. Laksana mentari yang membakar diri untuk memberi energi
kepada bumi. Seperti hujan yang menghidupkan semesta alam.
J.
Tahapan hidup manusia yang baik
Manusia yang baik
sebaiknya mengikuti ritme dan tujuan hidup yang berlaku secara umum di
masyarakat selama masih sesuai dengan aturan yang berlaku secara norma, nilai,
adat setempat, agama yang dianut, hukum yang berlaku dan lain sebagainya.
Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat menyebabkan konflik
yang dapat menimbulkan penilaian buruk hingga penolakan.
Berikut ini adalah sekilas tahapan hidup
manusia yang baik :
- Anak-Anak
Sebagai
anak yang baik yang hidup bergantung pada orang tua sudah barang tentu harus
patuh, tunduk dan hormat pada orangtua (kecuali jahat atau tidak wajar).
Jadilah anak yang bisa diandalkan dan dibanggakan orangtua. Hindari perilaku,
aktivitas dan kegiatan yang tidak disukai orang tua. Bagaimanapun juga orangtua
yang baik akan selalu melindungi dan memberi kasih sayang kepada anaknya.
Tinggal bagaimana timbal balik kita kepada orang tua saat masih kanak-kanak dan
saat remaja serta dewasa kelak.
Ketika
memasuki tahap sekolah, maka belajar dengan serius, rajin, tekun dapat membuat
orangtua bangga. Menambah kegiatan yang berguna akan sangat baik sekali seperti
kegiatan olahraga, seni, organisasi kemasyarakatan, dan lain-lain. Hindari
aktifitas yang buruk seperti nongkrong-nongkrong, tawuran, berantem, pacaran,
main game berlebihan, berbohong, merokok, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya.
Sukses dapat dilihihat dari seberapa baik prestasi kita di sekolah dan luar
sekolah serta seberapa sayang dan bangga keluarga juga masyarakat sekitar
kepada kita.
- Remaja
Masa
remaja adalah masa yang menentukan masa depan. Kesalahan pada masa ini dapat
menghancurkan hidup seseorang. Pada tahap remaja, kesuksesan masih dapat
dilihat dari sebarapa bangga keluarga serta masyarakat kepada kita dan seberapa
besar prestasi yang dicapai pada ruang lingkup akademis dan non akademis.
Pendidikan adalah modal dasar untuk bisa melaju sukses di saat dewasa karena
negara kita yang masih sangat menilai seseorang dari sisi prestasi akademis
daripada kemampuan non akademis.
Masa
remaja harus dipersiapkan dan direncanakan dengan baik mulai dari cita-cita
yang hendak dicapai (harus sangat tinggi), bisnis-bisnis sampingan yang akan
dijalankan, membuat keluarga yang sakinah mawahdah warohmah, hingga bagaimana
menyelesaikan studi yang sedang berjalan hingga selesai. Usahakan selesaikan
pendidikan hingga perguruan tinggi. Jika orangtua tidak mampu maka cobalah
putar otak bagaimana membiayai pendidikan sendiri dan membiayai kehidupan
sendiri seolah-olah kita akan mati atau hidup sengsara jika tidak bisa sukses
pada bidang akademis.
Pada
saat remaja harus ada gambaran pekerjaan yang nanti akan dijalani sesuai minat,
bakat dan keberuntungan. Siapkan juga jalur alternatif lain jika cita-cita
tersebut kandas atau berbelok 180 derajat. Jangan ragu pula untuk memulai dari
bawah karena pengalaman adalah guru yang paling baik. Jadilah orang yang tegar
menjalani hidup dan jangan putus asa hanya karena gagal meraih cita-cita atau
putus cinta karena kegagalan adalah awal dari kesuksesan.
Masalah
cinta sebaiknya jaga emosi dan latih kesabaran. Sebaiknya hindari pacaran yang
serius yang menjurus ke cinta mati / cinta buta atau bahkan ke hubungan fisik
terlarang yang memiliki resiko tinggi menghancurkan masa depan seseorang.
Remaja yang baik bisa merencanakan kapan harus jatuh cinta dan serius menggarap
cintanya. Sebaiknya mulai serius pacaran ketika telah bekerja dan bisa hidup
mandiri karena akan lebih banyak pilihan jodoh atau justru akan datang dengan
sendirinya kepada kita. Rencanakan dan pikirkan dengan akal sehat
sebaik-baiknya masalah pacar dan jodoh.
- Dewasa
Saat-saat
dewasa sebaiknya hanya tinggal menjalankan rencara yang telah disusun rapi
dengan banyak jalur alternatif. Boleh juga menyempurnakan rencana yang telah
ada sehingga menjadi lebih baik lagi. Pada tahap ini juga perlu memikirkan
orang tua kita yang semakin bertambah usianya atau bahkan mencapai usia lanjut.
Oleh sebab itu mulailah berbakti pada orang tua dengan memberikan perhatian
yang lebih baik secara finansial maupun kasih sayang ketika telah mapan dan
mandiri.
Saat
dewasa adalah waktunya untuk membentuk keluarga sendiri. Orang tua kita akan
sangat bangga jika kita bisa menemukan jodoh yang baik dan melahirkan anak-anak
yang sehat dan pintar tanpa perlu banyak campur tangan dari orang tua. Jika
telah berkeluarga maka jagalah dengan baik keluarga tersebut jangan sampai
rusak karena emosi dan kelakuan buruk dari kita maupun pasangan hidup kita
(suami/isteri). Sukses pada tahap ini adalah ketika bisa mapan mandiri,
membentuk keluarga yang bahagia dan dapat membahagiakan orangtua (ortu kandung
dan mertua) kita yang telah membesarkan kita dan membimbing kita dari lahir.
Dalam
hal materi ada beberapa yang harus diperhatikan dan dijadikan fokus utama.
Prioritaskan materi dan aset-aset yang bersifat jangka panjang. Ketika mulai
bekerja dan menghasilkan uang sendiri maka mulai berpikir, menabung, dan
menganggarkan dana untuk membantu orang tua, mencari jodoh, menikah, membeli
rumah atau mengontrak rumah tempat tinggal, memiliki dan membesarkan anak,
perabot, dan kendaraan. Hindari membuang-buang uang untuk trend, gaya-gayaan,
maniak teknologi baru, foya-foya, hobi buta, dan lain sebagainya kecuali untuk
amal zakat infak sodakoh.
Di
samping itu tidak kalah penting untuk membangun bisnis baik mulai dari nol
maupun melanjutkan dari yang sudah ada di berbagai bisnis sebagai persiapan
dalam menghadapi krisis pada profesi utama. Dengan berbisnis juga dapat
mengamankan finansial kita saat tidak bekerja (penghasilan pasif). Tabunglah
uang yang tersisa dalam bentuk aset atau uang riil (dinar dirham) karena uang
kertas dan logam (uang kartal) sebenarnya tidak berharga tanpa jaminan bank
sentral.
- Lanjut Usia
Pada
tahapan ini seharusnya telah menikmati hasil dari persiapan pralansia baik dari
sisi finansial maupun dari sisi keluarga (anak dan cucu). Pada tingkatan ini
sukses ditentukan dari seberapa tenang hidup anda dan keberhasilan yang dicapai
anak-anak anda. Pada tahap ini sebaiknya anda menikmati hidup saja sambil
sedikit memberi sumbangsih pada lingkungan masyarakat sekitar serta memberikan
sedikit uluran tangan pada anak-anak sebatas memberi masukan dan saran.
Keberhasilan
tidak ditentukan oleh finansial semata karena hanya dengan sukses anak menjadi
orang yang menyayangi orang tua dan hidup berkecukupan maka orang tua pun akan
ikut menikmati hasil dari si anak tersebut. Namun alangkah baiknya jika pada
tahap ini tetap bisa mandiri secara finansial sehingga tidak merepotkan atau
membebani anak sehingga anak cucu kita akan tetap 100% menghargai dan
menghormati kita sebagai yang dituakan.
BAB III
PENUTUP
Menjadi manusia yang baik
merupakan tujuan hidup yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap umat manusia.
Caranya adalah dengan bermanfaat bagi orang lain. Karena sebaik baik manusia
adalah manusia yang bermanfaat. Berbuat baiklah kamu jika kamu ingin orang lain
berbuat baik terhadapmu.
Semoga makalah ini dapat
bermanfaat sehingga dapat menjadi masukan bagi kita sebagai umat manusia agar
senantiasa berbuat baik terhadap sesama, tanpa memandar suku, agama, dan
keturunan.
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K. Etika.
2007, Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar